Kamis, 07 November 2013

silogisme


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Manusia telah terbiasa untuk berpikir. Hampir setiap saat manusia berpikir baik itu berpikir yang sederhana maupun berpikir yang kritis. Salah satu bentuk seseorang bepikir seperti dengan menarik kesimpulan dalam setiap situasi. Hal ini sering kita lakukan baik secara sadar ataupun tidak sadar,contohnya saat seseorang melihat tetangganya yang tiba-tiba membeli banyak barang-barang elektronik, ada banyak jenis-jenis kesimpulan yang dapat disimpulkan seperti ‘mungkin ia menang kuis sehingga memperoleh uang yang banyak untuk membeli barang-barang tersebut’, atau ‘mungkin ia memelihara tuyul sehingga dia bisa membeli banyak barang’. Penarikan kesimpulan-kesimpulan tersebut terkadang dilakukan hanya berdasarkan dugaan atau perasaan semata bukan berdasarkan kebenaran. Oleh karena itu, berpikir merupakan kegiatan yang cukup sulit dan pelik jika dilakukan dengan benar.
Berpikir yang baik yakni berpikir logis dialektis, bukan hanya mengindahkan kebenaran bentuk atau hukum-hukum,tetapi juga harus mengindahkan kebenaran materi pemikiran beserta kriterianya. Hukum-hukum tersebut diselidiki dan dirumuskan oleh logika. Logika adalah ilmu penalaran atau keterampilan berpikir yang tepat.
Dasar penalaran dalam logika ada 2 yaitu deduktif dan induktif. Penalaran deduktif (logika deduktif) adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argument deduktif. Sedangkan penalaran induktif (logika Induktif) adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencari kesimpulan umum.
Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak mempergunakan penalaran tak langsung yang dalam ilmu logika dikenal dengan silogisme. Silogisme disebut juga penalaran deduktif secara tidak langsung. Silogisme dikembangkan oleh Aristoteles.

1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan di bahas pada makalah ini, antara lain:
1.      Apakah yang dimaksud dengan silogisme?
2.      Apa sajakah jenis-jenis dan hukum-hukum silogisme?
3.      Bagaimanakah hubungan silogisme dalam matematika?
1.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat ilmu, makalah ini juga bertujuan untuk:
1.      Mengetahui pengertian silogisme
2.      Mengetahui jenis-jenis dan hukum-hukum silogisme
3.      Mengetahui hubungan silogisme dengan matematika


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Silogisme
Salah satu warisan Aristoteles dalam pemikirannya di bidang logika adalah silogisme, yakni sebuah argumen yang terdiri dari tiga proposisi, yakni premis mayor, premis minor dan kesimpulan. Menurut Aristoteles, semua kesimpulan deduktif manakala dikemukakan dengan cermat dan bersifat silogistik. Karena itu,dengan memaparkan silogisme dengan benar dan sah, disertai argumen berbentuk silogistik, maka akan menghindarkan kesalahan dalam pemikiran. Silogisme dapat dikatakan sebagai cara berpikir logis, yang dapat digambarkan dengan berbagai cara. Selain Aritoteles ada beberapa pendapat yang mengemukakan pengertian dari silogisme,antara lain:
1.      Menurut Wikipedia, Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).
2.      Menurut Poespoprodjo (1989;154), Silogisme adalah proses logis yang terdiri dari tiga bagian. Dua bagian pertama merupakan premis-premis atau pangkal tolak penalaran silogistik. Sedangkan bagian ketiga merupakan perumusan hubungan yang terdapat antara kedua bagian pertama melalui pertolongan term penengah (M). bagian ketiga ini disebut juga kesimpulan yang berupa pengetahuan baru (konsekuens). Proses menarik suatu kesimpulan dari premis-premis tersebut disebut penyimpulan.
Suatu premis adalah suatu pernyataan yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga pernyataan tadi menegaskan atau menolak bahwa sesuatu itu benar atau tidak benar. Suatu premis dapat mengatakan suatu fakta, suatu generalisasi, atau sekedar suatu asumsi atau sesuatu yang spesifik. Silogisme terdiri dari tiga bagian yaitu; Term minor (term subjek) , Term mayor (term predikat)  dan Terminus Medius (Term perantara /Middle term) .
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa silogisme adalah penalaran deduktif yang terdiri dari tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor dan kesimpulan. Premis mayor adalah proposisi yang berisi hubungan antara term mayor dan terminus medius. Premis minor adalah proposisi yang berisi hubungan antara term minor dan terminus medius.
2.2. Jenis-jenis dan Hukum-hukum Silogisme
Silogisme merupakan prosedur penalaran yang menghasilkan kesimpulan yang benar berdasarkan premis yang benar. Secara umum, silogisme berdasarkan bentuknya dibagi menjadi dua yaitu silogisme kategoris dan silogisme hipotesis.

2.2.1. Silogisme Kategoris
Menurut Wikipedia, Silogisme kategoris adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Sedangkan menurut Poespoprodjo(1999;206), silogisme kategoris adalah suatu proses pikiran yang menjadi tempat bagi kita untuk menyelidiki identitas atau diversitas (kebedaan) dua konsep objektif dengan memperbandingkannya dengan konsep ketiga secara berturut-turut. Jadi silogisme kategoris adalah suatu proses pikiran yang terdiri dari proposisi kategoris (pernyataan tanpa syarat) untuk menyelidiki diversitas dua konsep objektif dengan membandingkannya.
Sebagai suatu bentuk logis yang sudah baku, silogisme kategoris bermakna sekali dalam percakapan sehari-hari, diskusi,buku dan pidat,jalan pikiran kita jarang dirumuskan dalam bentuk silogisme. Tetapi begitu masalah mengapa dipersoalkan, maka orang akan mencari alasan-alasannya. Disinilah bentuk silogisme kategoris dapat membantu menunjukkan jalan atau tahap-tahap penalarannya. Misalnya, apabila seseorang ditanya,”mengapa orang yang sakit akan mati?” maka akan dicari alasannya, dan kemudian berkata” karena orang yang sakit adalah manusia.” Jika kemudian diberi bentuk logis, maka dapat diperoleh silogisme sebagai berikut:
Semua manusia akan mati.
Orang yang sakit adalah manusia.
Maka orang yang sakit akan mati.

a.      Hukum-hukum silogisme kategoris
Untuk menyusun silogisme yang sahih, kita harus menaati hukum-hukum silogisme. Hukum silogisme terbagi dua yaitu mengenai unsur term dan mengenai unsur proposisi dalam silogisme. Berikut ini yang dikemukakan Soekadijo (1988) secara detail mengenai hukum silogisme.
1.      Hukum silogisme mengenai term
a.       Jumlah term dalam silogisme tidak boleh lebih dari tiga yaitu S,M,P.
Term S,P,M dalam satu pemikiran harus tetap sama artinya, jika M itu mayor dan minor mempunyai arti yang berbeda maka tidak dapat ditarik kesimpulan
            Semua burung mempunyai sayap.
            Nanang adalah burung.
            Jadi, Nanang mempunyai sayap.
b.      Term S dan P dalam kesimpulan tidak boleh lebih luas dari pada dalam premis-premisnya.
Kalau S dan atau P dalam premis particular, maka kesimpulannya tidak boleh universal. Sebab apa yang benar tentang suatu particular, belum tentu benar tentang suatu universal.
            Semua lingkaran itu bulat.
            Semua lingkaran itu gambar.
            Jadi semua gambar itu bulat.
c.       Term M tidak boleh terdapat dalam kesimpulan
Term M berfungsi mengadakan perbandingan dengan term-term lainnya dalam kedua premis. Oleh karena itu term M hanya diperlukan dalam premis saja bukan dalam kesimpulan.
d.      Term M paling sedikit harus satu kali mempunyai arti universal.
Lingkaran itu bangun datar.
Persegi itu bangun datar
Jadi, lingkaran itu persegi.

2.      Hukum silogisme mengenai Proposisi
a.       Jika kedua premis afirmatif (positif) maka kesimpulannya juga harus afirmatif.
b.      Kedua premis tidak boleh negatif.
c.       Kedua premis tidak boleh particular (1 premisnya harus universal).
Apabila kedua premis particular maka tidak ada kesimpulan yang didapat.
d.      Kesimpulan harus sesuai dengan premis terlemah.
Dalam hal ini proposisi universal adalah proposisi kuat, sedangkan proposisi particular adalah proposisi lemah. Dan kalimat negative itu lemah sedangkan kalimat afirmatif itu kuat.
            Cerita yang cabul tidak baik untuk mendidik anak.
            Banyak cerita-cerita Panji yang cabul.
            Jadi, banyak cerita-cerita dari Panji tidak baik untuk mendidik.

b.      Bentuk Silogisme Kategoris
Terdapat 4 bentuk silogisme kategoris, antara lain
Bentuk

I
Sub-prae
II
Prae-prae
III
Sub-sub
IV
Prae-sub
Polanya
M           P

S            M
S            P
P         M

S         M
S         P
M        P

M        S
S         P
P         M

M        S
S         P

a.      Silogisme Sub-Prae, suatu bentul silogisme yang term pembandingnya dalam premis pertama sebagai subjek dan dalam premis kedua sebagai predikat.
Contoh:
Semua manusia akan mati.
               M            P
Socrates adalah manusia.
      S                      M
Jadi, Socrates akan mati.
               S             P
b.      Silogisme Prae-Prae, suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya menjadi predikat dalam kedua premis.
Contoh:
Semua orang yang berjasa terhadap negara adalah pahlawan.
Sukarno adalah pahlawan.
Jadi, Sukarno adalah orang yang berjasa terhadap negara.
c.       Silogisme Sub-Sub, suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya menjadi subjek dalam kedua premis.
Contoh:
Manusia adalah berbudaya.
Manusia itu juga berakal budi.
Jadi, semua yang berakal budi adalah berbudaya.
d.      Silogisme Prae-Sub, suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya dalam premis pertama sebagai predikat dan dalam premis kedua sebagai subjek.
Contoh:
Semua influenza adalah penyakit.
Semua penyakit adalah menggannggu kesehatan.
Jadi, sebagian yang mengganggu kesehatan adalah influenza.

2.2.2. Silogisme Hipotesis
Menurut karomani(2009;97), silogisme hipotesis adalah pola penalaran deduktif yang mengandung hipotesis (pernyataan bersyarat). Silogisme ini bertolak dari suatu pendirian, bahwa ada kemungkinan apa yang disebut dalam proposisi itu tidak ada atau tidak terjadi. Dan menurut Wikipedia,Silogisme hipotetis adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik. Dengan demikian silogisme hipotesis adalah silogisme yang premis mayornya adalah proposisi hipotesis (proposisi majemuk) dan premis minornya mengakui/menolak salah satu bagian dari premis mayor. Pada proposisi hipotesis, bagian pertama disebut antecedent (antiseden) dan bagian kedua disebut consequent (konsekuen).
Contoh : Jika turun hujan, maka akan banjir.
                      Antecedent            consequent

a.      Hukum – hukum Silogisme Hipotesis
1.      Mengakui antecedent adalah mengakui consequent
Contoh:
      Jika ada gula maka ada semut.
      Ada gula.
      Jadi, ada semut.
2.      Mengakui consequent belum tentu mengakui antecedent.
Contoh:
       Jika ada gula maka ada semut.
      Ada semut.
      Jadi, ada gula.
Kesimpulan ini tidak sah dan salah.
3.      Menolak consequent berarti menolak antecedent
Contoh:
       Jika ada gula maka ada semut.
      Tidak ada semut.
      Jadi, tidak ada gula.
4.      Menolak antecedent belum bearti menolak consequent
Contoh:
       Jika ada gula maka ada semut.
      Tidak ada gula.
      Jadi, tidak ada semut.
Kesimpulan ini tidak sah dan salah.

b.      Pembagian silogisme hipotesis
Silogisme hipotesis dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1.      Silogisme kondisional
a.       Apabila antecedent diakui pada premis minor maka consequent juga harus diakui pada kesimpulan.
Contoh :
      Jika Rizki bekerja, ia sehat
      Rizki bekerja
      Jadi, dia sehat.
b.      Apabila consequent ditolak pada premis minor, antecedent harus juga ditolak pada kesimpulan.
Contoh:
      Iika tadi malam hujan, jalannya pasti basah.
      Jalannya tidak basah.
      Jadi tadi malam tidak hujan.

2.      Silogisme disjungtif
Silogisme disjungtif adalah silogisme yang premis mayornya berbentuk proposisi disjungtif. Silogisme disjungtif terbagi menjadi dua yaitu:
a.       Akuilah satu bagian disjungtif pada premis minor, dan tolaklah lainnya pada kesimpulan.
Contoh:
      Anda atau saya yang berbicara.
      Anda sedang berbicara.
Jadi, saya tidak sedang berbicara.
b.      Tolaklah satu bagian disjungtif pada premis minor, dan akuilah yang lainnya pada kesimpulan.
Contoh:
      Anda atau saya yang berbicara.
      Saya tidak sedang berbicara.
Jadi, anda yang sedang berbicara.

3.      Silogisme konjungtif
Silogisme konjungtif adalah silogisme yang premis mayornya berbentuk suatu proposisi konjungtif. Silogisme konjungtif hanya ada satu jenis yaitu: akuilah satu bagian di premis minor, dan tolaklah yang lain di kesimpulan.
Contoh:
      Tidak ada yang membaca dan tidur dalam waktu yang bersamaan.
      Sartono tidur.
      Maka ia tidak membaca.

2.3.      Hubungan Silogisme dalam Matematika
Dibawah ini disajikan beberapa definisi atau pengertian tentang matematika menurut Soedjadi dalam Imran ( 2003 : 15 ) yaitu :
a.       Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematis.
b.      Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah- masalah tentang ruang dan bentuk.
c.       Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
d.      Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
e.       Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
Berdasarkan pengertian diatas, matematika merupakan pengetahuan abstrak tentang penalaran logic dan berhubungan dengan bilangan serta terorganisir secara sistematis. Dari pengertian itu dapat dikatakan bahwa matematika memiliki hubungan dengan silogisme yang merupakan penalaran deduktif. Hubungan ini terlihat jelas pada materi logika matematika dimana silogisme merupakan bagiannya. Dalam matematika antecedent disimbolkan dengan p dan consequent disimbolkan dengan q. Adapun silogisme pada matematika antara lain:
1.      Silogisme
Premis 1          : p  q
Premis 2          : q   r
Kesimpulan     : p   r
2.       Modus Ponens (bagian dari silogisme kondisional)
Premis 1          : p  q
Premis 2          : p
Kesimpulan     : q
3.      Modus Tollens (bagian dari silogisme kondisional)
Premis 1          ; p  q
Premis 2          :      q
Kesimpulan     : p

4.      Silogisme Disjungtif
a.       Premis 1                ; p V q
Premis 2                : q
Kesimpulan           : p

b.      Premis 1                ; p V q
Premis 2                :        q
Kesimpulan           : p



BAB III
PENUTUP

1.1  KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil setelah menulis makalah ini antara lain:
1.      Silogisme adalah penalaran deduktif yang terdiri dari tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor dan kesimpulan.
2.      Silogisme berdasarkan bentuknya dibagi menjadi dua yaitu silogisme kategoris dan silogisme hipotesis.
a.       silogisme kategoris adalah suatu proses pikiran yang terdiri dari proposisi kategoris (pernyataan tanpa syarat) untuk menyelidiki diversitas dua konsep objektif dengan membandingkannya. Hukum-hukum silogismen kategoris, antara lain:
1.      Hukum silogisme mengenai term
a.    Jumlah term dalam silogisme tidak boleh lebih dari tiga yaitu S,M,P.
b.      Term S dan P dalam kesimpulan tidak boleh lebih luas dari pada dalam premis-premisnya.
c.       Term M tidak boleh terdapat dalam kesimpulan
d.      Term M paling sedikit harus satu kali mempunyai arti universal.
2.      Hukum silogisme mengenai Proposisi
a.       Jika kedua premis afirmatif (positif) maka kesimpulannya juga harus afirmatif.
b.      Kedua premis tidak boleh negatif.
c.       Kedua premis tidak boleh particular (1 premisnya harus universal).
d.      Kesimpulan harus sesuai dengan premis terlemah.
b.      Silogisme hipotesis adalah silogisme yang premis mayornya adalah proposisi hipotesis (proposisi majemuk) dan premis minornya mengakui/menolak salah satu bagian dari premis mayor. Pada proposisi hipotesis, bagian pertama disebut antecedent (antiseden) dan bagian kedua disebut consequent (konsekuen). Hukum-hukum silogisme hipotesis, antara lain:
1.      Mengakui antecedent adalah mengakui consequent
2.      Mengakui consequent belum tentu mengakui antecedent.
3.      Menolak consequent berarti menolak antecedent
4.      Menolak antecedent belum bearti menolak consequent
3.      Matematika merupakan pengetahuan abstrak tentang penalaran logic dan berhubungan dengan bilangan serta terorganisir secara sistematis. Dari pengertian itu dapat dikatakan bahwa matematika memiliki hubungan dengan silogisme yang merupakan penalaran deduktif. Hubungan ini terlihat jelas pada materi logika matematika dimana silogisme merupakan bagiannya. Dalam matematika antecedent disimbolkan dengan p dan consequent disimbolkan dengan q. Adapun silogisme pada matematika antara lain: silogisme, Modus Ponens (bagian dari silogisme kondisional), Modus Tollens (bagian dari silogisme kondisional), dan silogisme disjungtif.


DAFTAR PUSTAKA

Karomani. 2009. Logika. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Poespoprodjo. 1989. Logika Ilmu Menalar. Bandung: Remadja Karya Offset.
Poespoprodjo. 1999. Logika Scientifika. Bandung: Pustaka Grafika.
Soekadijo,R.G. 1988. Logika Dasar, Tradisional, Simbolik dan Induktif. Jakarta: Gramedia.
Online: http://id.wikipedia.org/wiki/silogisme, diakses tanggal 15 oktober 2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar